
Pantaskah kita mencela orang lain hanya karena kejelekanya???. Tentu jawabanya tidak. Sebagai manusia yang normal kita harusnya sadar bahwa setiap orang pasti mengalami periode yang negative. Periode negatif itu merupakan kesalahan/kejelekan sedangkan periode positif itu kebaikan. Kebaikan dan kejelekan adalah bagian dari takdir. Sebuah kisah dari seorang tabi’in yang terkenal mengatakan bahwa dalam penyucian jiwa mengatakan, seandainya manusia itu tahu aibnya sendiri niscaya tidak akan ada orang yang mencela aib orang lain, suatu ketika ia ditanya oleh seorang sahabatnya” mengapa engkau tidak pernah mencela orang lain, ia menjawab demi Alloh jiwaku saja belum tentu diridhoi oleh Alloh lalu untuk apa aku mencela orang lain. Sesungguhnya banyak manusia yang takut pada Alloh, setelah melihat dosa dosa yang dilakukan oleh orang lain tetapi sayang mereka tidak merasakan hal itu saat melihat dosa dosa yang dilakukan sendiri. Lalu siapa diantara kita yang kuat menahan malu andaikan kita tahu daftar kesalahan, kedurhakaan, kemaksiatan, pelanggaran yang telah kita lakukan, siapa diantara kita yang mampu menahan rasa hina tiada tara jika kita mengetahui catatan perilaku buruk yang sudah kita lakukan, hidup yang kita lalui singkat tapi siapa yang kuat menahan penyesalan akibat keburukan dan dosa yang kerap kita lakukan berulang ulang. Langkah terbaik adalah perbarui taubat, mari perbanyak istighfar dan memohon ampunan kepada Alloh SWT. Rasululloh SAW pernah menggambarkan sebuah dosa seperti noda hitam di dalam hati, semakin banyak noda hitam didalam hati maka hati menjadi semakin hitam legam dan kelam, sinarnya tidak hanya redup tapi gelap cahayanya tertutup oleh titik titik noda yang menjadikanya tidak mampu lagi memandang dan menimbang kebenaran. Apabila seseorang melepaskan diri dari dosa dengan beristighfar dan bertaubat maka hatinya akan cemerlang seperti semula tetapi apabila ia mengulangi perbuatan dosa maka noda hitam itu akan bertambah hingga meliputi hatinya, Alloh SWT berfirman “sekali kali tidak demikian sebenarnya apa yang mereka usahakan menutup hati mereka” (QS.AL Muthoffifinn). Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali (berbuat maksiat), maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya QS.AL Muthoffifinn (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” Dan seperti hadist dan firman Alloh SWT itu, Hasan Al Basri menyebutkan bahwa ketaatan identik dengan cahaya batin dan kekuatan fisik, kebaikan itu memberi cahaya dalam hati melahirkan kekuatan bagi tubuh, sementara keburukan akan menggelapkan hati melemahkan tubuh serta mempengaruhi rejeki, ini yang dikatakan oleh Hasan Al Basri ia kemudian mengutip sabda Rasululloh SAW “seseorang dihalangi rejekinya karena dosa yang ia lakukan (HR. Ibu Madjah). Meskipun demikian kemaksiatan bukan akhir segalanya, melakukan dosa tak berarti kejatuhan yang tak mungkin pelakunya bangkit kembali, itu pesan yang disampaikan dalam hadist dan perkataan Hasan Al Basri adalah ajakan untuk mengulang ngulang dan memperbarui taubat. Dari imam Ibnu Qayyim Al Jauzi pernah panjang menguraikan betapa kesalahan dan dosa yang diperbuat oleh nabi Alloh Adam As hingga ia diturunkan dari syurga, yang ternyata membuka banyak hikmah dan karunia Alloh SWT kepada Nabi Adam As dan anak cucu cucunya. Dalam kitab al fawaid Ibnu Qayyim Al Jauzi menulis bahwa mungkin syaitan dengki, gembira dengan jatuhnya Adam dan hawa ke lembah dosa dan terpeleset dari syurga tapi sesungguhnya keluarnya adam dan hawa dari syurga menyebabkan ia melahirkan banyak karunia Alloh SWT kepada manusia karena kemudian lahir anak cucunya yang kelak akan menjadi khalifah di muka bumi bahkan ada hadits Rasululloh yang menyebutkan dan demi dzat dan diriku ada di kekuasan-Nya jika kalian tidak melakukan dosa niscaya Alloh akan melenyapkan kalian lalu Alloh akan mendatangkan kamu lain yang akan berdosa kemudian mereka bertaubat dan Alloh menerima taubat mereka. (HR muslim). Imam Ibnu Qayyim Al Jauzi setelah itu memberi komentar sangat indah bahwa ketika adam dikeluarkan dari syurga karena kesalahanya tidak berarti Alloh tidak memperdulikannya, Alloh tetap memelihara keturunan Adam dan keturunan anak cucunya karena selanjutnya pun tetap akan memberi syurga adam dan anak cucunya yang beriman dan taat kepada Alloh selama lamanya. Jadi dikeluarkan Adam dari syurga hanya sementara waktu seolah olah menyempurnakan bangunan syurga itu sendiri sama seperti manusia yang ingin melakukan renovasi tempat tinggal harus keluar dari rumah itu sementara dan kembali lagi ini seperti yang dituliskan Ibnu Qayyim Al Jauzi meskipun dengan segala keutamaan yang Alloh berikan kepada Adam, tetapi Adam tetap menyadari kesalahanya dan ia memohon ampun atas kemaksiatan yang pernah dilakukanya karena itulah doa nabialloh adam yang disebutkan dalam Al-quran yang berbunyi” ya Robbi kami telah mendzalimi diri sendiri dan jika engkau memberi ampunan kepada kami niscaya kami jadi orang orang yang rugi, kesalahan ternyata telah membuat adam merasa kedekatan dan ketergantungan luar biasa kepada Alloh SWT. Demikianlah kemaksiatan dan dosa ternyata bisa saja membuat pintu kebaikan bagi pelakunya syaratnya hanya satu yaitu perbarui taubat. Pintu kebaikan ada dimana saja termasuk dihadapan pelaku kemaksiatan. Jangan mencela berlebihan pelaku maksiat yang dilakukan orang karena mungkin saja dilain kemaksiatan itu ternyata melecut pelakunya untuk melakukan keshalihan yang bisa jadi kita sama sekali tidak mampu melakukanya. Tinggalkan kemaksiatan, sesali dosa, perbarui taubat, jangan biarkan diri hanyut dalam nikmatnya ayunan kesalahan. Ingat, jika kita ikhlas Alloh pasti akan menggantikan kenikmatan dosa yang kita tinggalkan dengan sesuatu yang jauh lebih indah dari nikmat sejak di dunia terlebih di akhirat. Dengarkanlah perkataan yang diungkapkan oleh Ibnu sirin seorang tokoh ulama di jaman tabi’in yang terkenal memiliki kepekan spiritual di jamanya ia mengatakan tidak ada seorangpun yang meninggalkan suatu keburukan yang ia rasakan nikmat hanya karena Alloh kecuali ia pasti akan menemukan gantinya dari Alloh. wallahu alam bishawab
Sumber : disadur dari suara streaming radio online dakwah syariah
I ѕelԁom leave а response, howеveг
i did a few searсhing and wound up here "Di Antara Pintu Pintu Kebaikan".
Αnd I do have a cοuple of questions for уou if it's allright. Is it simply me or does it appear like some of these remarks come across like they are written by brain dead individuals? :-P And, if you are posting at other online social sites, I would like to keep up with anything fresh you have to post. Could you list of every one of your communal sites like your Facebook page, twitter feed, or linkedin profile?
Here is my weblog; Lloyd Irvin
Post a Comment